Kamis, 11 Juni 2026
|
IKLAN HEADER (728x90)

PASANG IKLAN PREMIUM DI SINI

Letakkan iklan Google AdSense Anda atau iklan sponsor berbayar.

Hubungi Sales

UST. IRWAN WAJI : BUKU TUTUR SANG GURU SALAH SATU TESIS TERBESAR

Bang Maman

Jurnalis Lorong News

Baca: 9 Menit 26 views Juni 8, 2026
IKLAN ATAS ARTIKEL

RUANG SPONSOR UTAMA

By : Drs. Ruangsah Irwan Waji

Makassar, KampusLorong  – Pertama-tama saya ingin mengatakan bahwa saya hadir di sini bukan sebagai orang yang merasa paling memahami buku ini. Saya hadir lebih sebagai pembaca yang mencoba merenungi isi dan ruh yang dibawa oleh buku ini.

Karena terus terang, ketika membaca buku ini, saya tidak merasa sedang membaca buku motivasi biasa.

Saya merasa sedang diajak berdialog. Diajak memikirkan ulang tentang kehidupan, pergaulan, keberanian, keberhasilan, kampung halaman, bahkan tentang bagaimana seorang muslim seharusnya hadir di tengah masyarakat.

Menurut saya, di sinilah salah satu kekuatan utama buku ini. Buku ini tidak banyak berbicara dengan bahasa akademik yang rumit. Ia berbicara dengan bahasa “tutur”.

Bahasa yang mengalir. Bahasa obrolan. Bahasa yang terasa dekat. Namun justru karena itulah, ia masuk perlahan ke dalam kesadaran kita.

Setelah menelusuri halaman demi halaman, saya menemukan bahwa buku ini sesungguhnya sedang mengajukan satu pertanyaan besar:

Apakah kesalehan hanya cukup membuat kita menjadi orang baik, ataukah ia harus melahirkan pengaruh dan peradaban?

Pertanyaan inilah yang menjadi benang merah buku ini.

Pada kesempatan singkat ini, saya tidak akan membahas seluruh isi buku.

Karena menurut saya, bedah buku bukan memindahkan seluruh isi buku kepada audiens, melainkan mencoba menemukan gagasan besar yang paling penting untuk direnungkan bersama.

Karena itu saya hanya ingin mengangkat empat hal yang menurut saya sangat kuat dari buku ini:

  1. Keshalihan yang tidak terisolasi dari kehidupan.
  2. Keberanian masuk ke lingkar besar.
  3. Siri’ na pacce sebagai energi peradaban.
  4. Ukuran keberhasilan.

1. TEMA BESAR PERTAMA : Keshalihan Tidak Boleh Terisolasi

Judul : Iman di Tengah Dunia (hlm. 1–7)

Salah satu bagian yang sangat menarik perhatian saya adalah ketika penulis membahas tentang:

  • KADIN,
  • APINDO,
  • dunia bisnis,
  • dan ruang-ruang profesional.

Biasanya sebagian orang memandang ruang-ruang seperti itu sebagai dunia yang “kurang ideal” bagi orang shalih.

Tetapi dalam buku ini justru muncul pandangan yang berbeda.

Penulis menulis:

“Kalau semua orang baik hanya berkumpul dengan orang baik saja, lalu siapa yang akan mengisi ruang-ruang lain?”

Menurut saya, ini kalimat yang sangat besar.

Karena sebenarnya penulis sedang menggeser cara pandang kita tentang keshalihan. Bahwa keshalihan bukan berarti mengasingkan diri dari kehidupan, tetapi membawa nilai ke dalam kehidupan.

            “Ada nilai-nilai kebaikan yang tidak dibatasi oleh label. Dan seorang mukmin itu tidak alergi dengan ruang-ruang seperti itu. Nah, di sinilah sering terjadi salah paham. Kita kira biah shalihah itu harus homogen. Harus satu warna….Harus satu komunitas….Padahal tidak begitu….Dan ini sangat Islami.” (Hal.3)

Coba kita lihat para sahabat Nabi ﷺ.

Abdurrahman bin Auf bukan hanya ahli ibadah. Beliau seorang pedagang yang berinteraksi dengan banyak manusia.

Umar bin Khattab bukan hidup di ruang steril. Beliau memimpin masyarakat yang sangat kompleks.

Baca Juga  CATATAN BUKU TUTUR SANG GURU UST. SURYA DARMA, LC

Imam Abu Hanifah bukan hanya duduk di majelis ilmu. Beliau juga turun ke pasar.

Bahkan dalam buku ini disebutkan bagaimana Imam Abu Hanifah rela kehilangan keuntungan besar demi menjaga kejujuran dalam perdagangan.

Artinya apa?

Justru di ruang-ruang kehidupan seperti itulah nilai diuji.

Kadang kita terlalu sibuk bertanya:

“Di mana tempat yang aman untuk menjaga diri?”

Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang kita bawa ketika berada di sana?”

Dan menurut saya, inilah salah satu tesis terbesar buku ini.

Penulis bahkan menulis:

“Keshalihan itu bukan soal tempat. Bukan soal label. Bukan soal lingkaran semata. Tapi soal peran.”

Kalimat ini mengingatkan kita bahwa ukuran keshalihan bukan sekadar seberapa jauh kita menjaga diri, tetapi juga seberapa besar manfaat dan pengaruh yang kita hadirkan.

Dan ini sangat relevan dengan kondisi umat hari ini.

Umat Islam tidak kekurangan orang baik. Tetapi kadang kekurangan orang baik yang mau hadir di ruang-ruang strategis: ekonomi, pendidikan, media, sosial, organisasi, bahkan kebijakan publik.

Padahal kalau orang baik semuanya memilih aman di pinggir, siapa yang akan membawa nilai ke tengah kehidupan?

Dialog dengan Al-Qur’an

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Menjadi saksi atas manusia berarti hadir di tengah manusia, bukan menjauh dari mereka.

Catatan

Bagi aktivis, ini adalah kritik yang sangat penting.

Karena tantangan kita hari ini bukan kekurangan orang baik, tetapi kekurangan orang baik yang hadir di ruang strategis.

Buku ini sedang mengajarkan bagaimana menjadi muslim yang tetap shalih, tetapi juga hadir dan berpengaruh di tengah kehidupan nyata.

Hari ini kita sering menemukan dua keadaan yang ekstrem.

Ada orang yang aktif di dunia, tetapi kehilangan nilai.

Dan ada orang yang menjaga nilai, tetapi terlalu jauh dari realitas kehidupan.

Padahal Islam tidak mengajarkan keterpisahan itu.

Islam menghadirkan:

  • Abdurrahman bin Auf sebagai pedagang,
  • Umar bin Khattab sebagai pemimpin,
  • Utsman bin Affan sebagai saudagar,
  • Imam Abu Hanifah sebagai ulama sekaligus pengusaha.

Mereka bukan orang-orang yang lari dari kehidupan. Mereka justru hadir di pusat kehidupan.

2. TEMA BESAR KEDUA : Tentang Keberanian.

Untuk hadir di ruang kehidupan yang besar, seseorang membutuhkan keberanian mental……..

“Saya dulu juga pernah ditawari masuk KADIN pusat. Saya nolak karena merasa skala bisnis belum cukup. Tapi dia bilang-modal utama bisnis itu berani, Pak.” (hal.9)  ——-  Bertumbuh Melalui Lingkaran Besar

Judul : Berani Masuk Lingkar (hlm. 8–15)

“Jangan tunggu besar untuk masuk lingkaran besar. Masuklah lalu bertumbuhlah di dalamnya.”

Gagasan Penulis

Salah satu bagian yang paling saya sukai dalam buku ini adalah pembahasan tentang keberanian masuk lingkar besar, keberanian bertumbuh, dan keberanian melangkah sebelum merasa sempurna.

Baca Juga  BUKU TUTUR SANG GURU : WARISAN TARBIYAH DALAM GENGGAMAN

Ada satu kalimat yang menurut saya sangat kuat:

“Jangan tunggu besar untuk masuk lingkaran besar. Masuklah lalu bertumbuhlah di dalamnya.”

Kalimat ini sederhana, tetapi sangat dalam.

Karena banyak dari kita hidup dalam mentalitas: tunggu siap, tunggu mapan, tunggu percaya diri, tunggu sempurna.

Padahal sering kali kesiapan itu tidak lahir sebelum kita masuk ke medan. Ia lahir justru di dalam proses.

Menariknya, buku ini tidak hanya berbicara secara motivasional.

Penulis menghubungkannya dengan para sahabat, para ulama, bahkan perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ.

Misalnya ketika Rasulullah ﷺ bertemu dengan kabilah Aus dan Khazraj pada musim haji.

Secara logika, kondisi kaum muslimin saat itu belum kuat. Tetapi Rasulullah ﷺ masuk ke peluang tersebut.

Dan ternyata dari situlah lahir titik balik besar: hijrah ke Madinah.

Artinya, perubahan besar sering dimulai dari keberanian memasuki ruang yang belum sepenuhnya nyaman.

Penulis juga menegaskan bahwa lingkungan bukan sekadar tempat kita berada, tetapi faktor yang mempercepat pertumbuhan kita.

Kalau seseorang terus berada di lingkungan kecil, cara berpikirnya sering ikut kecil.

Tetapi ketika ia masuk ke ruang yang lebih besar, ia dipaksa naik kelas: cara berpikirnya, keberaniannya, dan kapasitasnya.

Karena itu, generasi muda Islam tidak boleh terlalu lama terjebak dalam perasaan belum layak, belum cukup, atau belum pantas.

Para sahabat sendiri tidak menunggu sempurna untuk bergerak.

Penulis menulis:

“Mereka bergerak, lalu disempurnakan dalam proses.”

Dan saya kira ini bukan hanya nasihat bisnis. Ini nasihat kehidupan.

Dialog dengan Sirah

Rasulullah ﷺ menerima baiat Aus dan Khazraj ketika kekuatan umat masih sangat kecil.

Penulis mengangkat semangat yang sama: peluang besar sering muncul sebelum kesiapan sempurna.

Pertanyaan

  • Berapa banyak peluang dakwah yang hilang karena kita merasa belum siap?
  • Berapa banyak kader yang tidak maju karena terlalu lama menunggu sempurna?

3. TEMA BESAR KETIGA : Siri’ Na Pacce: Modal Sosial Peradaban

Judul :  Akar yang Menarik Pulang (hlm. 24–29) & Harga Diri yang Mengembara (hlm. 37–43)

Siri na Pacce : Harga diri dan empati.

“Ketika seseorang merantau, ia tidak hanya

membawa dirinya sendiri. Ia membawa nama

keluarga. Ia membawa harapan kampung. Ia

membawa beban moral yang tidak tertulis.”

Maka ketika berhasil, yang terlintas bukan

hanya “bagaimana saya menikmati hasil ini”, tapi

juga “bagaimana saya membalas tanah yang

membesarkan saya”…..(Hal 25).

Sebagai orang Sulawesi Selatan, saya merasa bagian ini sangat dekat dengan jiwa masyarakat kita.

Penulis membahas tentang rantau, kehormatan, harga diri, kampung halaman, dan budaya siri’ na pacce.

Menariknya, beliau tidak membahasnya sebagai romantisme budaya semata, tetapi sebagai energi moral.

Ada satu kalimat yang sangat kuat:

Baca Juga  ALLAHU GHOYATUNA

“Siri’ membuat mereka tidak mudah menyerah. Pacce membuat mereka tidak lupa memberi.”

Karena di situ ada dua kekuatan besar.

Siri’: menjaga martabat dan kehormatan.

Pacce: empati yang mendalam kepada sesama.

Kalau dua hal ini menyatu, lahirlah manusia yang kuat menghadapi kesulitan, tetapi tetap memiliki hati.

Mungkin inilah yang membuat banyak perantau Bugis-Makassar berani merantau, berani memulai dari nol, berani menahan rindu, dan bekerja keras.

Karena mereka membawa sesuatu yang lebih besar daripada sekadar uang. Mereka membawa kehormatan.

Namun buku ini juga memberi arah yang penting.

Bahwa semangat itu tidak boleh berhenti pada keberhasilan dunia semata.

Ia harus diarahkan menjadi kebermanfaatan, kontribusi, dan pengaruh sosial.

Dan ini sangat Islami.

Islam tidak melarang seseorang menjadi kuat, kaya, atau besar.

Tetapi semuanya harus diarahkan untuk kemaslahatan.

Sebagaimana Utsman bin Affan رضي الله عنه yang kaya, tetapi kekayaannya mengalir untuk umat.

Maka buku ini sebenarnya sedang mengajarkan satu hal penting:

“Jadilah kuat, tetapi jangan hanya untuk diri sendiri.”

Kutipan Kunci

“Siri’ membuat mereka tidak mudah menyerah. Pacce membuat mereka tidak lupa memberi.”

Siri’:

  • harga diri,
  • kehormatan,

Pacce:

  • solidaritas,
  • empati,
  • kepedulian sosial.

Dialog dengan Islam

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”

Kemuliaan (karamah) melahirkan siri’.

Sedangkan ukhuwah dan kasih sayang melahirkan pacce.

Catatan

Jika nilai siri’ kehilangan Islam, ia bisa berubah menjadi kesombongan.

Jika pacce kehilangan Islam, ia bisa berubah menjadi fanatisme kelompok.

Karena itu keduanya harus dipandu oleh tauhid.

4. TEMA BESAR KEEMPAT : Keberhasilan Bukan Tentang Menjadi Terbesar

Judul : Ukuran Keberhasilan (hlm. 30–36)

“Bukan lagi pulang sebagai yang paling kaya, tetapi pulang sebagai yang paling memberi manfaat ” (Hal.32)

Penulis menggeser paradigma sukses:

Dari kompetisi menuju kontribusi.

Dari kekayaan menuju kebermanfaatan.

Dialog dengan Hadits

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Pertanyaan Reflektif

Ketika nanti kita pulang kepada Allah:

Apakah yang ditanyakan adalah berapa yang kita kumpulkan?

Ataukah berapa yang kita manfaatkan?

KESIMPULAN BEDAH BUKU

Menurut saya, seluruh buku ini dapat diringkas dalam tiga kalimat:

Pertama : Keshalihan tidak boleh membuat seseorang menjauh dari kehidupan.

Kedua : Keberanian memasuki ruang besar adalah syarat pertumbuhan.

Ketiga : Puncak keberhasilan bukan menjadi orang besar, melainkan menjadi orang yang memberi pengaruh besar.

PENUTUP

Saya akan menutup bedah buku ini dengan kalimat yang menurut saya mewakili seluruh ruh buku:

“Keshalihan itu bukan soal tempat. Bukan soal label. Bukan soal lingkaran semata. Tapi soal peran.”

Kalimat ini menjadi ringkasan seluruh Tutur Sang Guru.

Karena pada akhirnya, buku ini mengajak kita berpindah : Dari menjadi orang baik, menuju menjadi orang baik yang menghadirkan kebaikan bagi dunia.

Wallahu a’lam bish shawab.