Sebuah janji yang pernah diucapkan di hadapan publik akhirnya benar-benar ditunaikan. Bukan dalam tiga bulan seperti yang direncanakan, tetapi setelah perjalanan panjang hampir satu tahun penuh. Itulah kisah di balik lahirnya buku “ALL IN: Saat Nurani Menjadi Undangan”, sebuah buku yang mengangkat perjalanan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang resmi siap diluncurkan pada bulan November 2026 mendatang.
Penulis buku tersebut, Rahman Rumaday, mengaku buku itu sejatinya telah ia janjikan selesai hanya dalam waktu tiga bulan.
“Kalau mengingat kembali, saya justru tersenyum sendiri,” ujarnya saat diwawancarai. Rabu, 29/7/2026
“Saya pernah berdiri memberikan sambutan sebagai Founder Komunitas Anak Pelangi (K-apel) pada peringatan ulang tahun K-apel ke 15 tahun pada bulan September tahun 2025 di Lorong Daeng Jakking, Kelurahan Parang Tambung, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar. Di hadapan Pak Wali Kota, saya mengatakan bahwa insya Allah tiga bulan ke depan saya akan menulis buku tentang pak wali. Ternyata, janji itu baru bisa saya tunaikan hampir satu tahun kemudian.”
Meski demikian, Rahman Rumaday menyebut keterlambatan tersebut bukan karena kehilangan semangat, melainkan karena ia ingin menghadirkan sebuah karya yang lahir dari proses, bukan sebatas kumpulan cerita.
“Menulis bagi saya bukan hanya duduk di depan laptop lalu merangkai kata-kata. Saya harus menemui banyak orang, menggali cerita, mencocokkan data, hingga mencari berbagai referensi dari lembaga survei mengenai perjalanan politik Pak Munafri Arifuddin,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa salah satu bagian yang membutuhkan waktu cukup panjang adalah menelusuri perjalanan politik Munafri Arifuddin yang tiga kali mengikuti kontestasi Pemilihan Wali Kota Makassar.
“Saya ingin pembaca mengetahui bahwa sebuah kemenangan tidak lahir begitu saja. Ada proses panjang di baliknya. Pak wali maju tiga kali. Dua kali mengalami kekalahan, dan pada kesempatan ketiga akhirnya dipercaya masyarakat menjadi Wali Kota Makassar. Bagi saya, perjalanan seperti ini layak didokumentasikan agar menjadi inspirasi bahwa kegagalan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan.”
Rahman Rumaday menuturkan bahwa alasan terbesar dirinya menulis buku tersebut bukan semata-mata karena sosok Munafri Arifuddin sebagai kepala daerah, melainkan karena sebuah peristiwa sederhana yang justru meninggalkan kesan mendalam.
“Banyak orang bertanya, kenapa saya memilih menulis tentang Pak Wali Kota? Jawabannya tentu banyak. Tetapi kalau ditanya apa yang paling menginspirasi saya, jawabannya sederhana.”
Ia kemudian bercerita tentang sebuah momen ketika Munafri Arifuddin (pak wali) menghadiri kegiatan ulang tahun K-apel di lorong Daeng Jakking Kota Makassar.
“Yang membuat saya terkesan adalah pak wali datang bukan karena menerima surat undangan resmi. Kami hanya menyampaikan undangan melalui pesan singkat kepada sekretaris pribadinya.”
Rahman Rumaday mengaku sempat memperoleh agenda resmi kegiatan Wali Kota pada hari itu dari pihak protokoler.
“Saya melihat sendiri jadwal pak wali sangat padat. Ada berbagai agenda pemerintahan yang besar, termasuk peresmian kegiatan penting. Tetapi di tengah semua agenda itu, pak wali tetap memilih datang ke sebuah lorong kecil untuk menghadiri kegiatan masyarakat. Di situlah saya merasa ada sesuatu yang berbeda. Saya melihat seorang pemimpin yang tidak sebatas memenuhi jadwal, tetapi memenuhi panggilan nurani.”
Menurutnya, peristiwa itulah yang kemudian melahirkan judul buku “ALL IN: Saat Nurani Menjadi Undangan.”
“Judul itu bukan muncul begitu saja. Saya merasa kehadiran pak wali waktu itu bukan karena selembar surat undangan, melainkan karena ada panggilan hati untuk hadir bersama masyarakat.”
Rahman Rumaday juga meluruskan anggapan sebagian orang yang mengira dirinya memiliki hubungan dekat dengan Wali Kota Makassar.
“Mungkin ada yang berpikir saya menulis buku ini karena mengenal dekat Pak Wali Kota. Faktanya justru sebaliknya. Saya tidak memiliki hubungan pribadi dengan pak wali bahkan pak wali juga tidak mengenal saya secara personal sebelum kegiatan itu. Buku ini lahir bukan karena kedekatan, melainkan karena kekaguman terhadap sebuah sikap kepemimpinan yang saya saksikan sendiri.”
Ia menegaskan bahwa seluruh proses penulisan dilakukan secara sukarela sebagai bentuk kontribusi literasi bagi Kota Makassar.
“Saya tidak sedang membalas jasa siapa pun. Saya hanya ingin mendokumentasikan sebuah perjalanan yang menurut saya memiliki nilai inspiratif. Saya percaya, kisah perjuangan seseorang akan lebih bermakna ketika ditulis dan diwariskan kepada generasi berikutnya.”
Bagi Rahman Rumaday, tertundanya penyelesaian buku selama hampir satu tahun justru menjadi pelajaran bahwa sebuah janji memang membutuhkan tanggung jawab.
“Awalnya saya malu karena janji tiga bulan tidak terpenuhi. Namun hari ini saya bersyukur. Allah memberi kesempatan kepada saya untuk tetap menunaikan janji itu. Mungkin bukan tepat waktu, tetapi selesai dengan proses yang saya yakini lebih matang.”