(Perasaan dan Tangan Besi)
By : Rahman Rumaday
KAMPUSLORONG.COM, MAKASSAR – Sore itu menjelang magrib kami duduk santai selepas rapat disalah satu warkop disudut kota Makassar. Suasananya tenang, tapi wajahnya terlihat menyimpan banyak tanya.
“Bang,” katanya pelan, “kenapa sih di organisasi itu rasanya sering ribut?”
Saya tersenyum, bukan karena pertanyaannya sederhana, tapi karena itu pertanyaan yang jujur.
“Karena kadang yang dipakai itu perasaan, bukan sistem.”
Ia mengernyit. “Perasaan? Maksudnya?”
“Iya,” jawab saya. “Kalau suka sama orang, dibela habis-habisan. Kalau tidak suka, dicari celahnya. Padahal organisasi itu bukan ruang hati, tapi ruang tata kelola.”
Ia terdiam sejenak. “Jadi kita tidak boleh pakai perasaan sama sekali?”
“Boleh punya perasaan. Kita ini manusia, bukan mesin. Tapi jangan jadikan perasaan sebagai rujukan keputusan. Rujukannya tetap sistem dan regulasi yang sudah kita sepakati bersama.”
Saya teringat kalimat Peter Drucker, “Manajemen melakukan hal yang benar.” Mengelola itu memastikan segala sesuatu berjalan sesuai aturan. Bukan sesuai mood. Bukan sesuai selera.
“Tapi bang,” ia menyela, “kadang ada orang yang memang menyebalkan. Susah tidak bawa perasaan.”
Saya tertawa kecil. “Nah, di situlah latihan kedewasaan. Organisasi itu bukan tempat balas dendam. Kalau kita membawa luka pribadi ke dalam forum, keputusan jadi kabur. Yang objektif berubah subjektif.”
“Kalau sedang marah bagaimana?”
“Jangan putuskan apa-apa saat marah,” jawab saya tenang. “Ali bin Abi Talib pernah berpesan, ”Janganlah engkau memutuskan perkara ketika engkau sedang marah.” Dalam organisasi, satu keputusan emosional bisa berdampak panjang. Bahkan bisa merusak hubungan yang dibangun bertahun-tahun.”
Ia mengangguk pelan. “Berarti organisasi itu bukan untuk beradu ya?”
“Bukan. Organisasi itu untuk memandu dan membantu. Kalau tujuannya ingin menang sendiri, itu namanya arena. Tapi kalau tujuannya ingin saling menguatkan, itu baru organisasi.”
Ia lalu bertanya lagi, “Kalau soal kekuasaan? Kan ada ketua, ada pengurus.”
“Kekuasaan itu amanah, bukan alat kendali,” jawab saya. “Jangan gunakan tangan kekuasaan untuk menekan orang. Gunakan sistem untuk mengatur semuanya. Karena sistem itu adil. Ia tidak punya dendam, tidak punya favorit.”
Ia tersenyum tipis. “Kadang orang lebih suka pakai kekuasaan daripada sistem.”
“Karena kekuasaan terasa cepat,” jawab saya. “Sekali perintah, semua diam. Tapi sistem itu mendidik. Ia membangun kesadaran.”
Saya menambahkan, “John C. Maxwell bilang, _“Kepemimpinan adalah pengaruh.”_ Pengaruh itu lahir dari konsistensi dan keteladanan, bukan dari tekanan.”
Kami sempat hening. Lalu ia tertawa kecil.
“Hehe… keren juga pembahasannya, Bang. Tapi kayaknya masih ada yang kurang.”
“Saya juga merasa begitu,” jawab saya santai. “Ada satu penyakit kecil yang sering dianggap biasa, padahal dampaknya besar.”
“Penyakit apa?”
“Penyakit narasi ancaman.”
Ia langsung tertawa. “Oh… yang model ‘lihat mi nanti…’ itu?”
“Nah, itu,” saya ikut tersenyum. “Kalimat seperti ‘lihat mi nanti’, ‘ingat itu baik-baik’, ‘saya catat itu’, atau nada yang seolah memberi sinyal pembalasan. Itu bukan bahasa kepemimpinan. Itu bahasa intimidasi.”
“Tapi kadang orang pakai itu supaya dihormati.”
“Salah kaprah,” jawab saya pelan. “Rasa hormat tidak pernah lahir dari ancaman. Ia lahir dari keadilan dan keteladanan.”
Saya teringat kutipan Lao Tzu, “Pemimpin terbaik adalah pemimpin yang orang-orangnya berkata, ‘Kita melakukannya sendiri.” Pemimpin terbaik tidak membuat orang takut, tapi membuat orang merasa memiliki.
“Kalimat ancaman itu mungkin terdengar sepele,” lanjut saya, “tapi di ruang organisasi, ia seperti retakan kecil di dinding. Lama-lama melebar. Orang jadi tidak nyaman. Mereka bergerak bukan karena kesadaran, tapi karena tekanan.”
“Berarti tidak boleh tegas, Bang?”
“Tegas itu perlu. Tapi beda antara tegas dan keras. Tegas itu jelas pada aturan. Keras itu meluapkan emosi.”
“Jadi jangan pakai tangan besi?”
“Betul. Organisasi bukan barak yang digerakkan dengan bentakan. Jangan gunakan tangan besi dalam mengelola dan menjalankan organisasi. Karena tangan besi hanya menciptakan kepatuhan semu.”
Saya menambahkan pelan, “Mahatma Gandhi pernah berkata, “Anda tidak akan pernah bisa mendapatkan kerja sama melalui paksaan.” Kerja sama tidak pernah lahir dari paksaan.”
Ia menarik napas panjang.
“Kalau kita memimpin dengan ancaman, orang mungkin diam. Tapi diamnya karena takut, bukan karena hormat. Dan ketika rasa takut itu hilang, loyalitas ikut pergi.”
“Berarti kuncinya tetap sistem?”
“Iya. Kembali ke sistem. Kalau ada yang salah, tunjukkan aturannya. Kalau ada yang melanggar, proses sesuai mekanisme. Jangan pakai kalimat samar penuh tekanan.”
Saya menatapnya sejenak dan berkata pelan,
“Karena organisasi itu tempat belajar dewasa bersama. Bukan tempat unjuk kuasa.”
Ia tersenyum lebar. “Jadi intinya, jangan bawa perasaan, jangan bawa dendam, jangan pakai ancaman, dan jangan pakai tangan besi?”
Saya tertawa kecil. “Nah, itu ringkasannya.”
Lalu saya tutup dengan kalimat yang lebih dalam,
“Organisasi yang sehat dibangun dengan sistem yang adil, bahasa yang santun, dan kepemimpinan yang berjiwa besar. Bukan dengan intimidasi.”
Karena pada akhirnya, seperti kata John C. Maxwell,
”Orang tidak akan peduli seberapa banyak yang Anda ketahui sampai mereka tahu seberapa besar kepedulian Anda.”
Dan kepedulian
tidak pernah lahir dari ancaman.
Ia lahir dari keteladanan dan kedewasaan.
Parang Tambung, 1 Ramadhan 1447 H / 19 Februari 2026
