Kamis, 30 Juli 2026
|
LORONGNEWS

Berkabar Berdaya Berdampak

IKLAN HEADER (728x90)

PASANG IKLAN PREMIUM DI SINI

Letakkan iklan Google AdSense Anda atau iklan sponsor berbayar.

Hubungi Sales

The Magic, Buku Ketika Menjadi Mantra Karya Rahman Rumaday

Bang Maman

Jurnalis Lorong News

Baca: 4 Menit 9 views Juli 23, 2026
IKLAN ATAS ARTIKEL

RUANG SPONSOR UTAMA

Oleh :  Mulyati

(Kepala Seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan Kabupaten Maros)

Saya Menangis dalam Setiap Shalat Setelah Membaca Ketika Kata Menjadi Mantra

Saya bukan orang yang pandai merangkai kata. Bahkan sampai hari ini saya masih kesulitan menjelaskan apa yang sebenarnya saya rasakan setelah membaca buku Ketika Kata Menjadi Mantra karya Rahman Rumaday. Rasanya, kata-kata tidak pernah cukup untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi dalam hati saya.

Yang saya tahu, sejak buku itu selesai saya baca, ada sesuatu yang berubah.

Perubahan itu saya rasakan setiap kali berdiri untuk shalat.

Entah mengapa, sejak takbir pertama, air mata saya selalu mengalir. Bukan karena sedang ditimpa masalah atau kesedihan, tetapi karena ada perasaan yang begitu kuat bahwa Allah benar-benar dekat. Sangat dekat.

Saya seperti merasakan kehadiran-Nya memenuhi dada saya.

Sulit menjelaskan pengalaman itu. Yang saya rasakan hanyalah hati yang tiba-tiba menjadi sangat lembut. Ada rasa tenang yang belum pernah saya alami sebelumnya. Dalam setiap bacaan shalat, saya seperti sedang berbicara langsung kepada Allah dengan seluruh isi hati saya.

Yang paling berat adalah ketika sampai pada sujud terakhir.

Berkali-kali saya tidak ingin mengangkat kepala dari sajadah. Rasanya saya ingin tetap berada di sana. Saya takut ketika bangun dari sujud, saya tidak lagi merasakan kedekatan yang begitu indah itu. Saya ingin lebih lama bersama Allah.

Sejak membaca buku itu, hampir setiap shalat saya menangis. Zuhur, Ashar, bahkan shalat-shalat berikutnya, air mata itu datang sendiri tanpa saya minta. Seolah ada sesuatu di dalam hati yang selama ini membeku, lalu perlahan mencair.

Saya merasa Allah begitu menyayangi saya.

Baca Juga  Janji Tiga Bulan, Tuntas Setelah Setahun: Kisah di Balik Lahirnya Buku "ALL IN, Saat Nurani Menjadi Undangan"

Perasaan itu bukan datang dari logika, tetapi dari hati yang tiba-tiba dipenuhi rasa syukur, haru, dan kerinduan kepada-Nya.

Di tengah perjalanan membaca buku ini, saya juga terus teringat pesan almarhumah mama saya.

Beliau selalu berpesan agar saya tidak membalas keburukan dengan keburukan. Jika ada orang yang menyakiti hati saya dengan kata-kata, jangan membalasnya. Serahkan semuanya kepada Allah.

Pesan itu selama ini saya ingat, tetapi setelah membaca buku ini, saya seperti benar-benar memahaminya.

Kalau ada yang membuat hati saya terluka, saya lebih memilih pergi ke masjid. Di sanalah saya menangis. Di sanalah saya mengadu. Saya merasa hanya Allah yang benar-benar memahami semua yang tidak mampu saya ceritakan kepada siapa pun.

Buku ini juga membuat saya merenung tentang hidup saya sendiri. Saya berusaha mengingat, apakah selama ini saya pernah menyakiti hati orang lain dengan kata-kata. Setahu saya, saya selalu berusaha menjaga lisan. Namun buku ini mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah bukan hanya tentang menjaga ucapan kepada manusia, tetapi juga tentang terus membersihkan hati agar semakin dekat kepada-Nya.

Saya membaca buku ini dari halaman pertama hingga halaman terakhir tanpa melewatkan satu bagian pun.

Berkali-kali saya harus berhenti karena mata saya penuh air mata. Saya masuk ke kamar mandi hanya untuk membasuh wajah, lalu kembali melanjutkan membaca. Anehnya, setiap kali membuka halaman berikutnya, hati saya kembali bergetar.

Seolah-olah setiap kalimat sedang berbicara kepada diri saya sendiri.

Seolah-olah buku ini tidak sedang mengajarkan sesuatu, tetapi sedang mengajak saya pulang.

Setelah selesai membaca, saya mencoba menuliskan apa yang saya rasakan. Namun lagi-lagi saya menangis. Saya sadar, ada pengalaman yang memang tidak bisa diterjemahkan sepenuhnya oleh bahasa.

Baca Juga  NGUMPUL SAJA DULU

Bagi saya, Ketika Kata Menjadi Mantra bukan sekadar buku motivasi atau buku tentang menulis. Buku ini menjadi ruang perenungan. Ia mengajak saya melihat kembali hubungan saya dengan Allah, dengan diri sendiri, dan dengan orang-orang di sekitar saya.

Saya percaya, setiap orang akan menemukan pengalaman yang berbeda ketika membaca buku ini. Tetapi bagi saya, buku ini telah menjadi jalan yang membuat saya kembali merasakan manisnya beribadah. Saya merasakan shalat bukan lagi sebatas kewajiban, melainkan sebuah perjumpaan yang selalu saya rindukan.

Mungkin itulah yang paling sulit saya jelaskan.

Buku ini tidak hanya saya baca dengan mata.

Buku ini saya rasakan dengan hati.

Dan sejak saat itu, setiap sujud terasa lebih panjang, setiap doa terasa lebih dekat, dan setiap air mata menjadi saksi bahwa Allah selalu memiliki cara yang indah untuk memanggil hamba-Nya kembali.

Maros, 20/7/2026