Suatu ketika, saya duduk di markas K-apel usai belajar anak-anak.
Karpet yang sejak siang setia menopang tubuh-tubuh kecil anak-anak terasa lebih hangat setelah tiga jam menemani mereka belajar. Ada sisa-sisa tawa yang belum benar-benar pergi.
Suara membaca yang terbata, lalu gelak kecil yang pecah tanpa sebab, masih tinggal di kepala seperti gema yang enggan pamit.
Saya tidak langsung beranjak.
Saya diam.
Membiarkan sore menyelesaikan dirinya sendiri.
Lalu, tanpa nada dramatis, sebuah pertanyaan muncul begitu saja di dalam hati yakni,
“Kenapa saya memilih bertahan di sini?”
Bukan logika yang menjawab.
Bukan pula hitungan untung-rugi.
Yang datang justru sebaris kalimat yang pelan-pelan naik dari ingatan, seperti doa lama yang tahu kapan harus mengetuk:
“Innamal a’malu binniyat, wa innama likullimri’in ma nawa.”
Segala amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai apa yang ia niatkan.
Saya tersenyum kecil.
Mungkin inilah jawabannya.
Bukan soal besar-kecilnya yang dikerjakan, tapi kepada siapa semua ini diarahkan.
Allahu ghoyatuna.
Allah adalah tujuan akhir dari setiap langkah.
Ar-Rasul qudwatuna.
Rasulullah adalah teladan dalam setiap cara berjalan.
Jika Allah adalah tujuan, maka Rasulullah adalah peta.
Jika Allah adalah arah, maka Nabi adalah contoh bagaimana melangkah dengan adab, sabar, dan cinta.
Dan di sanalah saya merasa dikuatkan.
Bahwa bertahan di ruang kecil ini bukan soal heroisme, tapi soal meniru satu teladan lama yakni hadir, mendidik, dan mencintai manusia apa adanya.
Saya teringat satu ayat yang selalu terasa jujur setiap kali dibaca yang artinya :
“Bahwa sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” ~ QS. Al-An’am : 162
Ayat itu terdengar seperti pengakuan paling tulus seorang hamba.
Seolah berkata,
“Jika hidup ini milik Allah, maka lelah pun seharusnya sampai kepada-Nya.”
Saya menatap rak buku yang sederhana.
Sebagiannya lusuh.
Sebagiannya bekas sumbangan.
Tak ada yang mewah.
Namun justru di sanalah saya merasa cukup, bahkan kaya.
Saya teringat perkataan Ali bin Abi Thalib :
“Nilai seseorang ditentukan oleh apa yang ia berikan, bukan oleh apa yang ia miliki.”
Saya mengangguk pelan.
Mungkin saya tidak punya banyak.
Tapi selama masih bisa memberi waktu, perhatian, dan ilmu yang seadanya itu sudah lebih dari cukup.
Batin saya belum selesai berdialog.
Sebuah pertanyaan lain menyusul, lebih sunyi, lebih jujur :
“Kalau suatu hari tidak ada yang melihat, kamu masih mau melakukan ini?”
Saya teringat pesan Mufti Menk yang selalu terasa seperti pelukan tenang bahwa,
“Lebih baik kehilangan sesuatu demi Tuhan, daripada kehilangan Tuhan demi mendapatkan sesuatu.”
Kata-kata itu seperti jangkar.
Menahan saya agar tidak hanyut mengejar pengakuan.
Menjaga agar niat tetap pulang ke tempat yang benar.
Tentang bahagia, saya justru banyak belajar dari anak-anak.
Mereka tertawa tanpa syarat.
Belajar tanpa beban pencitraan.
Datang sebagai diri mereka sendiri, lalu pulang dengan hati yang ringan.
“Kebahagiaan sejati bukan pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada tenangnya hati.” ~ Imam Al-Ghazali
Dan entah mengapa, hati saya tenang di sini.
Di ruang kecil ini.
Di antara cerita polos dan mimpi-mimpi yang belum tercemar ambisi.
Tentang sukses, saya mulai berdamai dengan definisinya.
Bahwa sukses tidak selalu berarti naik ke atas.
Kadang sukses adalah tetap tinggal dan setia.
Seperti kata Nelson Mandela :
“Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia.”
Mungkin saya tidak sedang mengubah dunia.
Tapi jika satu anak berubah cara memandang hidupnya, maka ada satu dunia kecil yang ikut bergeser.
Tentang kebaikan, saya belajar untuk tidak sibuk menghitung.
Karena kebaikan punya caranya sendiri untuk pulang.
“Dan teruslah menebar kebaikan, karena kita tidak tahu kebaikan mana yang dapat menembus langit dan menggoncang ‘Arsy.” ~ Rahman Rumaday
Namun di antara semua renungan itu, ada satu ayat yang selalu datang sebagai pengingat paling jujur yakni surat As-Shaff ayat 2 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?”
Ayat ini seperti cermin.
Tidak marah, tapi tegas.
Seakan bertanya,
“Apakah langkahmu sudah sejalan dengan ucapanmu?”
Di K-apel ini, saya tidak ingin pandai berkata-kata.
Saya ingin pelan-pelan menjadi.
Seperti kata Hasan Al-Bashri;:
“Iman bukanlah angan-angan, tetapi apa yang menetap di hati dan dibuktikan dengan amal.”
Maka saya memilih diam yang bekerja, bukan suara yang ramai tapi kosong.
Saya ingin, jika pun lelah,
lelah itu bernilai ibadah.
Dan sore itu, sambil merapikan meja belajar, dan karpet, menutup pintu,
saya berbisik pada diri sendiri bahwa
Tidak apa-apa berjalan pelan.
Tidak apa-apa terlihat kecil.
Selama arahmu jelas.
Allah tetap yang utama.
Parang Tambung, 21/12/25
By : Rahman Rumaday
