Kamis, 30 Juli 2026
|
LORONGNEWS

Berkabar Berdaya Berdampak

IKLAN HEADER (728x90)

PASANG IKLAN PREMIUM DI SINI

Letakkan iklan Google AdSense Anda atau iklan sponsor berbayar.

Hubungi Sales

NGOPI ALA GURU MENGAJI LORONG

Bang Maman

Jurnalis Lorong News

Baca: 5 Menit 4 views Juli 25, 2026
IKLAN ATAS ARTIKEL

RUANG SPONSOR UTAMA

“Kalau ada yang bertanya, ‘Di mana saja engkau menghabiskan waktumu?’, mungkin salah satu jawabannya adalah di sebuah warung kopi.”

Kata-kata itu sering terlintas di kepala saya setiap kali duduk di sebuah warkop. Bukan karena saya penggemar kopi. Bahkan bukan pula karena saya ingin dianggap anak senja yang hobi menikmati pahitnya kehidupan.

Saya hanya percaya satu hal.

Warung kopi adalah tempat yang sangat jujur.

Di sana kita bisa melihat kehidupan apa adanya. Ada yang datang membawa tawa, ada yang menyimpan luka. Ada yang sedang merancang masa depan, ada pula yang sedang mencari jalan pulang. Ada yang hanya sebatas menghabiskan waktu, tetapi ada juga yang sedang mengumpulkan tenaga untuk kembali berjuang.

Sebagai seorang guru mengaji lorong, saya pun sesekali singgah di warung kopi. Bukan untuk melarikan diri dari kesibukan, melainkan untuk menyapa kehidupan dari sudut yang lebih sederhana.

Jika ada yang bertanya kepada saya, “Tempat ngopi favoritnya di mana?” biasanya mereka sedang menunggu jawaban yang sama seperti kebanyakan orang. Mungkin mereka mengira saya akan menyebut nama kafe yang sedang viral, tempat yang estetik, atau segelas minuman dengan cita rasa yang sedang ramai diperbincangkan.

Sebagian orang mungkin akan menjawab kopi yang enak.

Sebagian lagi memilih tempat yang estetik.

Ada yang mengejar harga yang murah.

Ada pula yang rela antre demi mencicipi menu yang sedang viral.

Semua jawaban itu benar.

Tetapi jawaban saya mungkin sedikit berbeda.

Saya biasanya hanya tersenyum lalu berkata,

“Bisa iya… bisa juga tidak.”

Karena bagi saya, secangkir kopi atau segeas minuman tidak pernah hanya tentang kopi atau segelas minuman tersebut.

Baca Juga  CAHAYA DI UJUNG PEMATANG

Ia adalah teman perjalanan.

Ia menjadi saksi percakapan-percakapan kecil yang kadang justru melahirkan keputusan-keputusan besar.

Maka, hal pertama yang saya cari bukanlah daftar menu.

Bukan pula desain interiornya.

Yang pertama kali saya lihat justru sesuatu yang mungkin tidak pernah masuk dalam daftar penilaian kebanyakan orang.

Apakah di dekat warung kopi itu ada masjid? Atau setidaknya mushala yang bersih dan nyaman?

Mengapa?

Karena sehebat apa pun suasana sebuah warkop, ia tidak boleh membuat saya terlambat memenuhi panggilan yang jauh lebih indah yakni panggilan azan.

Saya selalu merasa, tempat terbaik bukanlah tempat yang membuat kita betah berlama-lama, tetapi tempat yang memudahkan kita untuk segera berdiri ketika Sang Pencipta memanggil.

Sebab kopi atau minuman hanya menghangatkan tubuh.

Sedangkan salat menghangatkan jiwa.

Hal berikutnya yang saya perhatikan adalah pelayanan.

Saya selalu percaya bahwa manusia tidak hanya mengingat rasa.

Manusia lebih lama mengingat bagaimana ia diperlakukan.

Senyum yang tulus.

Sapaan yang ramah.

Ucapan sederhana seperti, “Silakan, pak…” atau “Terima kasih sudah datang…”

Kadang terdengar biasa.

Namun justru dari hal-hal kecil itulah kita belajar tentang akhlak.

Pelayanan yang baik bukan hanya sebatas standar bisnis.

Ia adalah bentuk penghormatan kepada sesama manusia.

Pelayanan yang Memudahkan

“Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” ~ Hadis

Salah satu prinsip pelayanan dalam pandangan islam adalah menghadirkan kemudahan, bukan kerumitan. Pelayanan yang baik selalu berorientasi pada solusi, efisiensi, dan kenyamanan, tanpa mengabaikan aturan dan nilai keadilan. Sikap mempermudah mencerminkan akhlak Islam yang mengutamakan kemaslahatan, sehingga setiap orang yang datang memperoleh pengalaman yang menyenangkan, bukan beban yang memberatkan. Seorang pelayan yang baik tidak hanya menyelesaikan pekerjaannya, tetapi juga melayani dengan hati yang ikhlas, penuh empati, dan profesional

Baca Juga  KETIKA CATATAN LAMA MENEGUR

Lalu yang terakhir adalah suasananya.

Saya tidak terlalu menyukai tempat yang terlalu gaduh.

Saya lebih menikmati ruang yang memberi kesempatan hati untuk mendengar dirinya sendiri.

Karena bagi saya (seorang guru mengaji), sesungguhnya, bukan hanya mengajar orang lain.

Saya juga harus terus belajar mengajari diri sendiri.

Belajar agar tidak sombong.

Belajar agar tidak mudah menghakimi.

Belajar agar tetap lembut meski kehidupan kadang keras.

Dan sering kali, pelajaran-pelajaran itu justru datang di sela-sela menyeruput kopi atau segelas minuman hangat.

Di sebuah meja sederhana.

Di antara suara sendok yang beradu dengan gelas.

Di sela obrolan ringan yang tanpa disadari mengandung hikmah.

Saya pernah berpikir, mengapa banyak ide lahir di warung kopi?

Mungkin karena di sana manusia sedang menjadi dirinya sendiri.

Topeng-topeng perlahan dilepas.

Jabatan tidak terlalu penting.

Gelar tidak terlalu dibicarakan.

Yang tersisa hanyalah manusia yang sedang menjalani hidup.

Dan dari situlah saya belajar bahwa kopi atau segelas minuman ternyata bukan tentang minuman.

Ia hanyalah alasan agar manusia mau duduk, mau mendengar, mau berbicara, dan mau saling memahami.

Mungkin karena itu saya tidak pernah terlalu sibuk mencari warkop yang paling terkenal.

Saya lebih senang mencari warung kopi yang membuat hati tenang, dan ada kemudahan memenuhi panggilan azan.

Yang pelayannya ramah.

Yang suasananya teduh.

Yang ketika azan berkumandang, langkah menuju masjid terasa lebih dekat daripada langkah menuju kasir.

Karena pada seseungguhnya, ukuran sebuah tempat bukanlah seberapa mahal kopi atau minumannya.

Bukan pula seberapa ramai pengunjungnya.

Melainkan seberapa banyak kebaikan yang kita bawa pulang setelah meninggalkannya.

Dan di situlah saya menemukan makna ngopi yang sesungguhnya.

Baca Juga  12 Kakak Pembina Pramuka Unhas Luncurkan Buku "Dari Tenda ke Dunia" pada Puncak HUT ke-48 Gudep Makassar 11.075–11.076

Bahwa secangkir kopi boleh saja menghangatkan tangan.

Namun jangan pernah biarkan ia mendinginkan hati.

Sebab hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan mengejar rasa.

Hidup ini terlalu berharga jika hanya dipenuhi cerita tentang tempat-tempat yang pernah kita kunjungi.

Yang akan ditanya kelak bukanlah berapa banyak kopi yang pernah kita minum.

Bukan pula di warung kopi mana saja kita pernah singgah.

Tetapi apakah setiap persinggahan membuat kita semakin dekat kepada-Nya, semakin lembut kepada sesama, dan semakin sadar bahwa hidup hanyalah perjalanan menuju rumah yang sesungguhnya.

Maka, jika suatu hari engkau melihat sseeorang duduk sendirian di sudut sebuah warung kopi, jangan buru-buru mengira ia sedang menikmati kopi atau segelas minuman.

Bisa jadi ia sedang menikmati pelajaran hidup.

Bisa jadi ia sedang menyusun mimpi untuk menjadi manusia bermanfaat.

Atau mungkin…

Ia sedang bersyukur.

Karena di antara hiruk-pikuk dunia yang terus berlari, Sang Pencipta masih memberinya waktu untuk berhenti sejenak, menyeruput secangkir kopi, mendengar azan berkumandang, lalu melangkah menuju masjid dengan hati yang jauh lebih tenang daripada ketika ia datang.

Parang Tambung, 25/7/2026