Oleh: Ust. Haris Abdurrahman
KAMPUSLORONG.COM, MAKASSAR – Alhamdulillah, saya berkesempatan menghadiri diskusi buku Tutur Sang Guru. Sebuah momen yang tidak hanya mempertemukan saya dengan “Sang Guru yang Bertutur”, tetapi juga dengan pembedah buku yang dengan rendah hati mengakui bahwa dirinya telah “membedah” buku ini bahkan sebelum buku tersebut benar-benar selesai diterbitkan.
Pada forum diskusi itu saya memilih untuk tidak menyampaikan komentar secara langsung. Pertimbangan waktu dan keinginan memberi ruang kepada peserta lain untuk berbagi pandangan menjadi alasan saya. Namun, melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan beberapa catatan dan kesan setelah membaca buku yang disusun dan diedit oleh akhuna Rahman Rumaday.
Pertama, kita patut bersyukur bahwa upaya membangun budaya literasi di lingkungan kader PKS mulai menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan. Kehadiran para penggiat literasi, penulis, penyusun, dan editor buku seperti akhuna Rahman Rumaday beserta rekan-rekannya merupakan tanda bahwa tradisi menulis dan mendokumentasikan gagasan sedang bertumbuh dengan baik. Harapan kita tentu sederhana namun besar: semoga jumlah penggerak literasi seperti ini semakin banyak dan semakin kuat pengaruhnya dalam membangun peradaban ilmu di tengah kader.
Kedua, pemilihan judul Tutur Sang Guru menurut saya sangat tepat, kontekstual, dan aktual. Tepat karena buku ini memang merupakan kumpulan tutur dan tulisan dari Sang Guru, Ustadz Surya Darma, yang selama ini beliau sampaikan secara tertulis di berbagai grup WhatsApp yang diikutinya. Tulisan-tulisan tersebut bukan sebatas rangkaian kata, melainkan cerminan pemikiran, semangat, dan kedalaman jiwa seorang murabbi yang terus berupaya memberikan pencerahan kepada kader melalui hikmah, ilmu, dan perenungan yang mendalam.
Secara kontekstual, buku ini menjadi wadah yang merekam gagasan-gagasan pembinaan dan keummatan yang lahir dari pengalaman panjang seorang guru. Sementara secara aktual, isi buku ini tetap relevan dan selalu up-to-date untuk dijadikan bekal dalam proses tarbiyah dari masa ke masa. Bahkan menurut saya, aktualisasi isi buku ini perlu dilakukan melalui pengambilan petikan-petikan hikmah yang ada di dalamnya untuk menjadi bahan motivasi dalam kelompok-kelompok UPA yang kita bina. Karena itu, setiap kader sebaiknya tidak hanya membaca, tetapi juga menghafalkan bagian-bagian penting dari buku ini agar dapat dituturkan kembali oleh para murabbi dan mutarabbi dalam halaqah mereka.
Ketiga, buku ini merupakan bukti nyata ketekunan, semangat, dan kesungguhan Ustadz Surya Darma dalam memberikan arahan, nasihat, wejangan, serta berbagi ilmu kepada kader PKS. Kehadiran buku ini sekaligus menjadi penanda bahwa beliau adalah seorang murabbi tulen. Pembinaannya tidak hanya hadir melalui lisan, tetapi juga melalui tulisan; tidak hanya berlangsung secara tatap muka dalam halaqah, tetapi juga melalui ruang-ruang digital seperti WhatsApp. Apa yang beliau lakukan bukan semata-mata proses pewarisan ilmu, melainkan juga pewarisan semangat, kesungguhan, dan mujahadah yang mudah-mudahan dapat diwarisi dengan baik oleh kader dari generasi ke generasi.
Keempat, buku ini menghadirkan pelajaran penting sekaligus teladan luhur dari seorang guru. Di era media sosial yang memungkinkan penyebaran kebaikan maupun keburukan secara bersamaan, Sang Guru menunjukkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara bijak. Di tangan seorang guru yang arif, media sosial menjadi sarana berbagi ilmu, menyebarkan hikmah, memperluas pencerahan, serta menjadi instrumen dakwah dan pembinaan yang bernilai amal jariyah.
Pesan ini menjadi pengingat bagi kita semua agar tidak menjadikan media sosial sebagai tempat menyebarkan keburukan, menularkan kemungkaran, atau memperluas dosa. Sebaliknya, jika kita mampu meneladani kebijaksanaan Sang Guru, maka setiap sentuhan jari kita pada layar gawai akan bernilai seperti ujung pena yang menorehkan ilmu, kebaikan, dan petunjuk bagi sesama.
Pada akhirnya, Tutur Sang Guru bukan sebatas kumpulan tulisan. Ia adalah rekaman jejak seorang murabbi, kumpulan hikmah yang lahir dari perjalanan panjang pembinaan, serta warisan pemikiran yang layak dibaca, direnungkan, dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Buku ini mengingatkan kita bahwa seorang guru sejati tidak pernah berhenti mendidik, bahkan melalui tulisan-tulisan sederhana yang lahir dari kepeduliannya terhadap umat dan kader-kader yang dicintainya.
