ALLAHU GHOYATUNA
Suatu ketika, saya duduk di markas K-apel usai belajar anak-anak. Karpet yang sejak siang setia menopang tubuh-tubuh kecil anak-anak terasa lebih hangat setelah tiga jam menemani mereka belajar. Ada sisa-sisa tawa yang belum benar-benar pergi. Suara membaca yang terbata, lalu gelak kecil yang pecah tanpa sebab, masih tinggal di kepala seperti gema yang enggan pamit. […]
